Taman Bunga Marigold Bone Bolango Segarkan Mata di Pagi Hari

Spot swafoto Benteng Ulanta di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, yang sempat viral di media sosial (medsos), kini mulai meredup. Namun, belum lama ini, spot terbaru swafoto di Bone Bolango, Gorontalo, kembali menjadi viral di medsos.

Kali ini, hamparan bunga di Taman Demplot di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Bulango Timur, Bone Bolango, menjadi perbincangan warganet. Bunga marigold atau gumitir tumbuh subur dan mekar di lahan seluas 35 meter persegi itu membuat takjub para pengunjung.

Tak sedikit warga yang datang untuk melihat hamparan bunga kuning merona nan lebat di Taman Demplot BPP Bulango Timur ini. Dan saat berada di antara taman bunga ini, pengunjung seakan diajak merasakan sensasinya di tengah lautan bunga, terutama saat pagi hari.

Tak mengherankan, bila mereka kemudian bergegas mengabadikan diri lewat swafoto berlatar bunga kuning merona ini.

Kepala BPP Bulango Timur, Bone Bolango, Suwandi Said mengatakan sekilas banyak orang yang cenderung menamai tanaman bunga ini adalah bunga “tahi ayam”. Meski tak dipungkiri bentuknya nyaris sama, tanaman ini merupakan bunga marigold. Sejak Desember 2017, BPP Bulango Timur sengaja membudidayakan hampir 200 tanaman bunga yang bernama Latin Tagetes itu.

Bunga Marigold Tumbuh Subur

BPP Bulango Timur memang menguji coba pengembangan bunga marigold di Gorontalo. “Ada teman saya yang ingin berniat mengembangkan bunga ini karena banyak kegunaannya selain berfungsi sebagai tanaman hias juga memiliki khasiat tanaman obat. Makanya saya meresponnya untuk mencoba dibudidayakan,” ujar Suwandi.

Selama hampir 60 hari, pihaknya terus memperlakukan secara khusus terhadap tanaman bunga marigold. Bahkan, saking khususnya, bunga marigold ditanam dengan model bedengan miring berteras. Jika dilihat bentuk bedengan menyerupai simbol sinyal Wi-Fi atau jaringan nirkabel.

Hal itu sebagai salah satu upaya konservasi juga karena ditanam di lahan miring, sehingga tujuannya hanya lebih pada fokus bagaimana mengedukasi teknologi penanaman tanaman bunga ini kepada warga. “Apalagi, sifatnya sebagai mikro habitat dan jika diterapkan dalam pertanian sebagai pengendali alami,” jelasnya.

Kini tanaman bunga hias itu tumbuh lebat dan mekar dengan subur sehingga mengundang daya tarik masyarakat yang banyak berswafoto di lokasi. Suwandi membuka lokasi tanaman bunga secara umum tanpa mematok harga sepeser pun dan hanya memberikan seikhlasnya saja.

“Ini kalau di India sangat laris karena mereka biasa gunakan buat kalung persembahan. Bahkan, juga kelopak bunganya yang diambil tidak mudah layu sampai 10 hari di atas meja. Makanya, cocok sekali dibudidayakan.

Karena tanaman hibrida, maka tidak bisa dikembangkan lebih lanjut. “Harus beli baru bibit bijinya, itu pun kendalanya karena saking lebatnya kalau hujan kelopak bunganya menyerap air, sehingga terkadang buat tangkai miring,” ujarnya.